F4H Logo FLY FOR HUMANITY
LIVE HIMAWARI-9 & RADAR COMPOSITE INA-SIAM METEOROLOGY

Radar Cuaca & Satelit Himawari-9 Real-Time

Sistem Pemantauan Presipitasi Hujan, Awan Badai Cumulonimbus, Citra Satelit Himawari/GK2A, Sambaran Petir, dan Telemetri Live METAR Bandara Seluruh Wilayah Udara Indonesia (FIR WIIF / WAAF).

Sensor Satelit — Terhubung ke Himawari-9 & RainViewer
Satelit Cuaca JMA / KMA
Himawari-9
Kanal Infrared (10.4 µm) & Visible True Color
Radar Presipitasi RainViewer
Komposit Live
Skala Intensitas 10 - 65 dBZ Multi-Radar BMKG
Stasiun METAR 23 Bandara
VFR / MVFR / IFR
Observasi Angin, Jarak Pandang & Kategori Terbang
Badai & Petir BMKG LDN
Sel Awan CB
Deteksi Suhu Puncak < -60°C & Kilat Aktif
Lapisan Cuaca LIVE
Transparansi Citra: 80%
Radar Presipitasi (dBZ)
Satelit Cuaca Awan
Stasiun METAR Bandara
Sambaran Petir (LDN)
Batas FIR Udara
Abu Vulkanik Krakatau
--:-- WIB (UTC: --:--) Frame 1/1
Reflektivitas Radar (dBZ): 10 dBZ (Gerimis) → 65 dBZ (Badai Es Ekstrem)
Observasi METAR Live
NOAA / BMKG

Laporan cuaca penerbangan aktual di bandara-bandara strategis Indonesia untuk evaluasi navigasi dan keselamatan UAV.

•VFR (>5 mil, c >3k ft): --
•MVFR (3-5 mil, c 1-3k ft): --
•IFR (<3 mil, c <1k ft): --
PANDUAN OPERASI PENERBANGAN & UAV

Standar Keselamatan Meteorologi Penerbangan & Pilot Drone

Pedoman teknis membaca citra satelit dan radar cuaca untuk mitigasi risiko badai konvektif, wind shear, icing, dan turbulensi pada misi tanggap darurat bencana Fly For Humanity.

Interpretasi Reflektivitas dBZ

Nilai dBZ (>45 dBZ) menunjukkan presipitasi lebat yang disertai awan badai konvektif. Drone multirotor dan fixed-wing dilarang beroperasi pada area berwarna kuning tua hingga merah untuk mencegah kerusakan sensor avionik dan motor brushless.

Suhu Puncak Awan (IR Satelit)

Citra Infrared Himawari mengukur suhu puncak awan. Area bersuhu sangat dingin (< -60°C) mengindikasikan awan Cumulonimbus (CB) yang menembus lapisan tropopause, memiliki updraft kuat dan potensi sambaran kilat intensif.

Kategori Terbang VFR / IFR

Kategori VFR (Visual Flight Rules) mengharuskan jarak pandang minimum 5 km dan plafon awan di atas 3.000 kaki. Jika stasiun menunjukkan IFR (warna merah), seluruh operasi pemetaan udara ortofoto wajib ditunda demi keamanan.

Komposit radar presipitasi menggabungkan sinyal dari puluhan stasiun radar cuaca Doppler C-Band dan S-Band yang dioperasikan BMKG di seluruh Indonesia (seperti radar Cengkareng, Serang, Semarang, Denpasar, dan Makassar). Data mentah diinterpolasi menjadi grid mosaik tanpa celah beresolusi spasial tinggi (~500 meter) yang diperbarui setiap 10 menit.

Citra Visible (VIS): Mengukur pantulan sinar matahari pada spektrum tampak. Citra ini menghasilkan visual sangat detail seperti foto asli di siang hari, namun tidak dapat mendeteksi awan di malam hari.

Citra Infrared (IR 10.4µm): Mengukur radiasi termal bumi dan puncak awan 24 jam sehari (siang dan malam). Semakin dingin suhu puncak awan (ditandai warna putih pekat hingga ungu/merah pada enhance convective), semakin tebal dan berbahaya sistem badai tersebut.

Sebelum menerbangkan drone UAV untuk pemetaan ortofoto darurat bencana, pilot F4H wajib memeriksa: (1) Pergerakan sel hujan konvektif pada animasi radar untuk memastikan jendela terbang bebas hujan minimal 45 menit, (2) Laporan arah dan kecepatan angin pada stasiun METAR terdekat, (3) Peringatan bahaya abu vulkanik VONA jika beroperasi di sekitar gunung api aktif, serta (4) Batas ruang udara FIR agar koordinasi dengan AirNav Indonesia berlangsung aman.

Butuh Analisis Geospasial Lengkap?

Akses WebGIS Workstation Fly For Humanity untuk melihat layer ortofoto drone bencana resolusi tinggi, pemodelan sesar gempa, titik panas karhutla, dan jalur evakuasi.

Radar Cuaca & Satelit Indonesia

Pantau radar hujan, citra satelit cuaca, dan informasi cuaca penerbangan Indonesia pada peta interaktif untuk mendukung perencanaan operasi drone.